Selasa, 05 Februari 2013

LOMBOK ,, alluring Island East of Bali

5 - 8 Maret 2012, ... Alhamdullilah, finally bisa ke Lombok juga,, sdh direncanakan lama sih, tp gagal terus. Utk keberangkatan kali ini, tujuan utama adalah perdin untuk menyelesaikan administrasi di sono, yg usernya sendiri dah move on ke Jawa. Berharapnya bisa ngeberesin pekerjaan disono dgn waktu singkat sehingga ada sisa waktu buat menikmati aneka resort di Lombok, mengingat utk stay disitu singkat banget.
Berangkat dini hari dari Malang, bersama rekan kerjaku Pa' Agung, yg punya misi sama dgnku untuk angkut semua pekerjaan ke Jawa. Pesawat flight via Juanda - Surabaya, nyampe bandara masih pagi, perut dah teriak" minta diisi, ... kalo jam segini di Bandara biasanya kita cari makan dr penjual nasi keliling. Penjual nasi  ini emang kadang sulit dicari, tampilan mereka rapi sambil bawa tas gede, tas itu isi nasi bungkus dan teh hangat bungkus plastik (kadang termospun masuk ke tas itu juga). Biasanya mereka menjajakan dagangannya di ruang tunggu/peron bandara. Emang sih jualannya sembunyi", kesannya menyamar, karena bandara sendiri giat banget untuk merazia PKL ini. Saat itu, sulit sekali menemukan penjual ini di peron, so kita pindah nyari di parkiran bandara,, heheee,,, ketemu juga mereka di situ. Nasi bungkus dgn lauk seadanya ditemani teh hangat, menu sarapan pagi yg enak.. karena lauknyapun juga rasanya enak. Lumayanlah untuk membungkam perut yg sdh berontak dari tadi,,,
Berangkat dari Surabaya (SUB) ke Lombok (LOP) pake Wings Air (kode flight JT). Estimasi waktu berangkat jam 8.45 nyampe sono jam 09.05. Lumayan cepet juga sih ,,, Yang bikin excited, flight dgn Wings Air beda dgn pesawat" biasanya. Pesawat ATR ini adalah pesawat baling baling (turbo prop) yg ukurannya separo dari pesawat komersil biasa. Pramugarinya aja satu biji, yg kalo pas ga' keliling, dianya duduk manis di depan menghadap ke kita, saking ga' ada space buat sembunyi kali ya,,. Brasa lucu aja,,, kikikiki. On the sky, sempat shock juga, tiba" pesawat rasa anjlok gt,, waaakkss,, lsg ser"an, spot jantung jadinya. Kalo sekedar anjrut"an 'n goncangan" sih dah biasa, tapi ini brasa anjlok... serius, wajah jadi pucat ,, mana pakai pesawat bolang baling,, banyak" aja dzikir mendekatkan diri ke Maha Kuasa,, kalo crita kejadian ini ke temen", katanya sih emang gitu, terutama perjalanan dari or ke Lombok,, ada turbulensi udara,,, weewww,, sutralah penting sampai tujuan dgn selamat. Alhamdullilah,,,


Bandara International Lombok Praya (BIL) adalah bandara yg relatif baru, mungil, dan nothing special. Entah kenapa dengan model bandara seperti ini bisa sampai dinamai bandara International. Katanya, ini masih mendingan ga' ada PKLnya, dulu"nya banyak yg menjajakan dan menggelar dagangan di bandara,, yaelaaahh,, terlalu. Sebelum ke alamat tujuan, ternyata kita diantar jalan" ke pantai Kuta ,, (wow,, Kuta bukan hanya ada di pulau Dewata aj ternyata, di Lombokpun juga punya,,, ). Perjalanan hanya setengah jam dari bandara. Nyampe sono, menikmati pantai berpasir putih yg indah... pantai yg dikelilingi perbukitan dan masih sepi dari kunjungan turis baik lokal or manca. Asik banget ,, a wonderful part of Lombok Island,,




Sekedar berbagi pengalaman : saat disini pasti akan ditawari aneka cinderamata oleh org" daerah situ,, kalo ga' tegas"nya kita, kemanapun kita bergerak pasti akan diikuti, (ngekor terus), sapa ga' risih coba...huft. Diantara mereka ada yg cacat, jadi beriba hati deh melihatnya, ku kasih uang sekedarnya tanpa membeli barang dagangan dia. Apa jadinya,,,?? ternyata dia pamer ke temen"nya, otomatis temen"nya keroyok aku. Hadoh!! streess jadinya... susah amat ya jadi orang baik. untuk mengusir mereka ya pinter" aja kita pasang muka galak ke mereka,,, hosh #tepokjidat
Abis menikmati pantai Kuta, kita back ke tempat tujuan, di daerah Labuapi, Lombok Barat. lama juga sih perjalanan, dengan nuansa pemandangan yg ga' ada khasnya sama sekali, ga' beda jauh dengan kota" di Jawa. Kalo baru pertama masuk Bali, sdh ngejeder dgn bangunan pura khasnya Bali yg eksostis dan masyarakat Bali dgn dandanan adatnya yg khas pula. Beda jauh sm Lombok yg biasa aja, tak sesuai dgn bayanganku semula. Finally, sampai tempat tujuan, langsung tepar... capek sangat.
Esok paginya, pure kerja. Beresin semuanya. Dikebut biar cepetan kelar 'n bisa jalan" ,,, hehe,, dan ternyata kerjaan siang dah kelar, mo jalan" cuaca ga' mendukung ,,, mendung. Namun dengan semangat pantang menyerah, tetap nekat minta antar ke Senggigi. Pantai yg famous banget di Lombok. Kesanku setelah nyampe sono,,,aaah, Sengigi-pun ternyata juga ga' sebegitunya,,, kondisi pantai dgn pasir hitam, sampah berserakan,, bingung aja mo ngapain,,, emang secara fasilitas area Senggigi termasuk komplit, dari hotel, bar dgn live music, ATM, biro perjalanan, mini market, dsb semua tersedia disitu. Eniwei, berhubung dah sore dan hujan rintik",, niat untuk explore pantai Senggigipun jadi surut. Ga' sempat nyebrang ke Gili Trawangan, Gili Air, maupun Gili Meno. Ntah napa, aku kok ga' nyesel ya,,, heheeee,,





Spent the time, wisata kuliner malam di Lombok. Menu andalan adalah ayam goreng taliwang dan kakung plecing,, lumayan enak,, katanya sih kangkung Lombok rasanya beda sm kangkung tempat yg lain ,, tp menurutku sama aja, namanya juga kangkung ,, cuma sizenya aja yg lebih gedean,, heheee,,



Dah itu aja perjalananku di Lombok, esok paginya dah cabut dari Lombok lewat jalan darat. Diiringi hujan lebat menuju ke pelabuhan Lembar, nyebrang ke Pelabuhan Padang Bai, Karangasem, Bali. Justru ini letak indahnya, aku sangat menikmati perjalanan darat ini ... Love my journey!!!

dari Lembar ke Padang Bai


Dharma Kosala - Kapal Penyebrangan Lembar - Padang Bai

take a snap @ Bali

a click @ pantai Pasir Putih - Situbondo

Pa' Agung - my officemate




Senin, 04 Februari 2013

Beautiful Heritage Spot in Medan ,,

3 - 5 Februari 2012, spent the time @ capital city of North Sumatra ... Medan (MES). Kota yg bikin penasaran, meskipun karakter orangnya keras 'n beda jauh dgn org jawa. Selama rute-nya dilalui AA by Sub, why not?? mengobati rasa penasaran dengan hunting tiket promo AA, walhasil dptlah dgn harga murah sesuai jadwal tertera di atas. Brangkat dari Juanda jam 8 pagi, nyampe sono jam 11 siang. Ini bagian dari petualanganku, karena ini kunjungan pertamaku di Medan, blank soal Medan, sempat janjian ketemu dengan  temanpun di Danau Toba yg lokasinya jauh dari Medan. So, untuk jalan" di kota Medannya, seperti biasa aku pake jasa ojek aja, yg lebih lincah geraknya, lebih murah, 'n lebih bisa menikmati..... sampai di bandara Polonia Medan, bingung juga cari ojek ... seperti biasa, yg banyak menyambut kedatangan kita adalah sopir" taksi. Nyantai aja dulu, duduk" di Polonia, sambil geser ke tepian bandara, akhirnya disamperin juga sm tukang ojek. Ga' pake basa basi, langsung ku sodorkan lokasi wisata yg ingin ku kunjungi .... memang sdh ku list semua sebelum keberangkatan, biar ntar kalo dah nyampe Medan, kagak tulalit... Cocok harga, langsung minta antar buat makan, minta makanan yg khas Medan. Dapatnya soto Medan yg tempat makannya berlokasi di daerah Kesawan, jl. Ahmad Yani ... rasa sotonya biasa, lebih sedap soto jawa,, heheee secara lidahnya lidah jawa,,,, 


Soto Medan - Jl. Ahmad Yani - Kesawan

Abis makan dikasih tau pak ojek, kalo Tjong A Fie mansion lokasinya tak jauh dari situ, jalan bentar dah nyampe,,, oyaaaa,,, lsg deh meluncur ke Tjong A Fie. Ternyata bener, deket,,, heheee,, tak ku sangka kalo lokasinya di tepi jalan raya,, Dalam sehari itu, aku harus menempuh banyak lokasi, so untuk Tjong A Fie Mansion, aku ga' sampe blusukan ke dalam Mansion-nya ,, cukup diluarannya aja, yg penting sdh nyampe di salah satu landmarknya Medan ,,, Yeach, Tjong A Fie Mansion ,,




Tempat ini berbentuk rumah dengan nuansa Tionghoa yang kental. Pemilik rumah ini bernama Tjong A Fie, beliau adalah seorang pengusaha di bidang perkebunan di Medan. Usahanya bisa dibilang sukses, hingga beliau meninggalkan sebuah aset wisata untuk kota Medan. Rumahnya yang terletak di Jl. Ahmad Yani ini, merupakan bangunan kuno, yang masih dipertahankan keasliannya hingga kini. Mulai dari interior, hiasan dinding, dan eksteriornya pun masih dijaga keasliannya.


Next, masih menjelajah landmark" Medan yang lain, antaranya : Kantor Pos Medan, Titi Gantung, Lonsum (London Sumatra), Istana Maimun, dan menara air Tirtanadi




Istana Maimun disebut juga Istana Kesultanan Deli, dibangun oleh Sultan Makmun Al-Rasyid tahun 1888. Istana ini pernah direnovasi (mengalami perbaikan). Istana ini masih tetap dimiliki oleh Sultan dan keluarganya. Pada masa lalu menurut Sejarah Kesultanan Deli, Istana Maimun adalah jendela untuk masuk kemasa kejayaan kerajaan.



Titi ini dibangun pada tahun 1185, bersama dengan stasiun kereta api besar Medan. Berfungsi sebagai alat penyeberangan dari Spur Straat (jalan stasiun kini) ke Quarantee Brod straat (Jalan Irian Barat kini). Titi Gantung merupakan salah satu ikon Kota Medan. Pada awalnya bangunan yang dibuat Belanda ini difungsikan sebagai tempat bersantai atau berjemur para pejabat Belanda. 





Terletak di sudut Jalan A.Yani, sebelumnya dikenal sebagai Kesawan Road. Gedung London Sumatera atau biasa disebut gedung Lonsum selesai dibangun tahun 1906 bersamaan dengan lahirnya Ratu Juliana, Royal Dutch family. Gedung ini dibangun oleh David Harrison, pemilik perkebunan karet Harrison & Crossfield company (H&C) yang berpusat kota London. Meskipun dibangun pada masa 90 an, fasilitas di gedung ini cukup mengagumkan. Gedung Lonsum tercatat sebagi gedung pertama di Medan yang menggunakan teknologi lift yang menjangkau lima lantai.





 Kantor Pos terletak di Jalan Medan Merdeka Square. Konstruksi dimulai tahun 1909 dan selesai pada tahun 1911. Gedung ini merupakan proyek besar pertama dilakukan oleh Snuyf, seorang arsitek yang telah menjadi kepala Sipil Pekerjaan Umum untuk Indonesia. Karena pertumbuhan yang cepat dari pemerintah Hindia Belanda, ada kebutuhan bangunan baru untuk berbagai layanan pemerintah, seperti sekolah, penjara dan kantor pos.





Menara Air Tirtanadi merupakan salah satu ikon kota Medan. Keberadaan menara ini dapat dikatakan sangat vital bagi masyarakat kota Medan. Bangunan ini didirikan pada tahun 1908, oleh pemerintah Belanda, sebagai tempat penampungan air bagi masyarakat Medan. Namun tidak semua masyarakat Medan dapat memanfaatkan menara air tersebut, hanya golongan menengah keatas saja yang diperkenankan memanfaatkan menara air tersebut sebagai sumber penghasil air untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat golongan menengah kebawah masih menggunakan sumur-sumur untuk memenuhi kebutuhan air mereka sehari-hari.


Sore akan tiba, sudah saatnya aku akhiri perjalananku keliling kota Medan. Tujuan berikutnya ke Danau Toba sekalian menemui temankku disono,, Dlm blog ini, emang lagi males bahas bang Ojek yg memandu aku selama di kota Medan,, awalnya layanannya friendly ,, tp berikutnya jadi males"an,, mana ngasih petunjuk mo ke Tobanya bikin sengsara lagi ... katanya untuk ke Toba, aku bisa naek angkot .. padahal seharusnya pake kendaraan travel gitu,, naek angkot dgn mpet"an, ngetem lama, 'n hingar bingar musik Batak membahana di angkot tersebut,, ditambah lagi penumpangnya yg ibuk" ikutan nyanyi kenceng banget,,, sungguh ,,, tersiksaaaaaaa,,,, arrrggghhhh , iya murah sih, tapi ya ga' gini" amat kalee,,, tukang ojek sialan!!! Rute yg ku tempuh 4 jam (busyet,,) : Medan - Pematang Siantar - Parapat (Toba). Kalo pilih Medan - Brastagi - Danau (Pangururan) itu malah makan waktu 5 jam,,,  nehik lah,,,
Selama diperjalanan yg sering ditemui adalah perkebunan kelapa sawit. Dah larut, aku nyampe Parapat ... turun di gerbangnya Danau Toba (memastikan dulu ke sopir sm penumpang sebelahku). Dgn muka jelek, capek, 'n bete, cari hotel deket" situ. Abis dapet hotel, baru temanku datang, Bang Danu,,, mayan ada temennya,,, yup meski too late dgn segala deritaku,,, Esok paginya, beres dah diajak jalan - jalan dan menikmati Danau Toba sm bang Danu,, yg lebih asik lagi diajak nyebrang ke Pulau Samosir,,, suasana di Samosir bener" aku harapkan, krn disitu nuansanya Batak banget,, sempat menikmati durian Medan, beli souvenir, dan liat Sigale gale,, aseeekkk pokoknya,,,









Sorenya move'on ke Medan lagi, baliknya ga' menderita,, justru nyaman banget, karena naik mobilnya Bang Danu,,, heheheeee,, emang sih diputuskan untuk bermalam di Medan, karena flightku besok lumayan pagi. Singkat cerita dah bermalam di Medan, esok paginya aku sempatkan naek bentor (katanya belum ke Medan kalo blm merasakan naik kendaran khas kota Medan ini). Naek bentornya, tujuan Masjid Raya Medan. sekedar ambil beberapa foto aja, kemudian balik hotel. Acara kemudian, dianter beli oleh - oleh sm bang Danu, makanan  khas Medan ,, Bika Ambon,,,, nyeeemm,, nyeeemm,,,, 



Masjid Raya Medan

Bang Bentornya nebeng narsis heheeee,,
Naek Bentor

Bika Ambon Zulaikha
Lapis Legit Zulaikha

Dah,, untuk acaran jalan"nya di Medan kelar,, saatnya balik Jawa ... lumayan komplit menjelajah wisata di Medan, cuma ada satu aja yg belum sempat keturutan,, pengen foto di tulisan "PEARL OF LAKE TOBA" di Taman Simalem,,, krn lokasinya berlawanan dgn ruteku saat ke Parapat (Toba) ,, waktu ga' cukup.



P.S : ... Bang Danu,, makasiiihhhh banyak untuk semua"nya ,,, ;)


Alm. Bang Danu :(

Dieng Plateau ,, The Strange Beauty of Central Java

21 April 2012,, dgn niatku yg segede Gunung Dieng, nekat dah berangkat ke Dieng sendirian,,, lha gmn lagi, liat foto" Dieng saat surfing,, rasanya langsung ngeces,,, cesss,, cesss,, Dieng tu dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Ketinggian rata-rata sekitar 2.000m di atas permukaan laut, suhu sejuk  dingin, sekitar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 8 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku.
Berangkat hanya berbekal tas ransel aja ala backpacker lokalan, dari Malang menuju Surabaya ke terminal Bungurasih. Saat itu weekend, ga' nyangka kalo yg antri bus jurusan Magelang luar biasa banyaknya,,, busyeeeettt... harus butuh perjuangan extra untuk dapat bus beserta tempat duduknya diantara ratusan calon penumpang. Syukurlah dgn tubuhku yg langsing, dgn lincah dan gesit.. aku dapatkan bus Eka yg bakalan antar aku ke Magelang,,, (waks!! langsing ,, xixixixi,,, langsung kale yeee,,,). Awalnya hopeless juga, tp gmn lagi.. mo balik pulang,, tengsin bow,,, hohoho,,, Dapat bus Eka sekitar jam 8 malem ,, rebutan bus didampingi rasa ngantuk yg luar biasa,,, dalam perjalanan pengennya tidur lelap, tapi apa nyana ... waduh bus'nya kalap ,,, bujubusyeeetttt ketika masuk Jateng ,,, brasa naek rollercoaster,,, akunya hanya bisa komat kamit doa, smoga nyampe tujuan dgn selamat. Suer, serem banget ya bus malam kalo jalan ,,, kalo pas nabrak orang lewat, pasti langsung ancur jadi butiran debu ,,, palagi yg numpang,, bisa jadi apa yaaaaa,,,, amit" jabang beybeehh,, Penumpang abis saat nyampe Yogya, tinggal dua butir orang aja yg tujuannya Magelang ,,, sampe dengan tujuan akhir terminal Magelang yg saat itu masih sepiiiiii sangat,,, yaeyalah sepi... masih jam 03.30wib gt lhoh,, sapa juga mau berkeliaran jam segitu,,, sambil nanya orang" yg masih hidup yg ada disekitar terminal itu,, untuk arah ke Wonosobo gimana?? ,,, ternyata aku harus ganti bus mini untuk menuju ke kota itu,,, en bus mini itu baru muncul di terminal Magelang jam 04.00wib,, weeewwww... nunggu setengah jam, ... in fact, jam 04.15 busnya baru nongol,,, asta'ajeeeeeeeemmmmm,,, serius itu busnya??? ... mini bus yg luar biasa ancurnya,,, maigot,, ku pikir bus Puspa Indah rute Jombang - Malang tuh adalah bus paling ancur, dan terjelek sedunia, ternyata ada yg lebih parah. Sungguh terpana dan terpukau aku melihat mini bus itu, dah tampilannya brasa besi dan lempengan seng berkarat yg dikumpulin bentuk bus, apalagi bangku bus ga' ada empuk"nya sm sekali,, spon bangku dah kandas semua, totally badan bersandar dan pantat duduk dibesi berkarat,,, alamaaaaakkkk ... jadi apa aku ntar kalo nyampe Wonosobo,.. hemmm,,
Tp bagaimanapun juga untuk naik bus ini (*micro bus katanya orang",, microba kali ya.. huft) adalah suatu keharusan biar nyampe Wonosobo. Lagian males mo nunggu bus berikutnya, iya kalo yg next more better... kalo tambah porak poranda??? gmn hayooo,, ??? Dua jam ditempuh brasa lamaaaaa banget,, walopun pemandangan di luar indah 'n hawa paginya sejuk. 65 km untuk bisa nyampe ke Wonosobo dgn rute Magelang - Secang -Temanggung - Parakan - Kertek - Wonosobo. Jalannya berkelok", maklum jalan pegunungan,, siap" mual aja buat yg belum terbiasa,,, 


buah khas Dieng, ... buah Carica

makanan khas Dieng ,, Mie Ongklok

Dari hasil baca" blog, katanya kalo dah nyampe Wonosobo ntar ganti bus di Alun",  mana bus???? ... tanya"pun jawabnya nihil, adapun harus jalan kaki agak jauhan... males,,, ojegan ribut nawari jasanya untuk anter ke Dieng,, hadeeehhhh,,, dibalik kerumunan ojek, ada satu tukang ojeg yg bikin aku brani nawar harga saking keukeuhnya dia ,,, namanya mas Fauzi, umurnya sepantaran sih ... kayaknya orgnya baik dan juga bisa dijadikan fotografer dadakan kayaknya,,,, wkwkwkwkwk,,, yg mo jalan" ke Dieng, di akhir story akan ku kasih no.hp mas Fauzi yg jelas orangnya baik, sabar, 'n guide yg hebat,,, Aku deal sm mas Fauzi untuk pake jasa dia selama seharian anter semua lokasi wisata di Dieng. Jatuhnya murahan naik ojeknya mas Fauzi drpd ribet gonta ganti bus antar lokasi wisata,, lagian efisien waktu,,, juga naik ojeg lebih seruuuuuuu,,, sambil deg"an juga sih,, kira" kuat ga' ya sepeda motor jadulnya mas Fauzi menanjak sambil bawa beban seberat aku,,, xixixixixi,,,, go Dieng with Jadul moviiiiiiin',, let's goooooooooooo,,,,, 
Indah banget pemandangan menuju Dieng, sumpah seruuuu,,, pas saat itu mendung mana hawanya dingin banget... berharap jangan berkabut biar bisa poti" ,,, heeeeee,, sempat foto di Gardu Pandang Tieng dan Tuk Bimo Lukar,, dari gardu pandang kita bisa melihat ke bawah kota Wonosobo, start di sini sudah mulai nyes hawa gunungnya,, kalo di Tuk Bimo Lukar adalah mata air suci orang Hindu kuno...nyampe Dieng, lapeeeerrrrr,, mo mamam dulu, makanan khasnya Dieng sih Mie Ongklok, .. ogah mamam menu itu, denger namanya aja dah bikin eneg,, heg,,, so kita makan di warung dgn menu daging bumbu lapis yg rasanya ga' karu"an dgn kualitas daging sealot sendal,,, ancriiittt,,,








Tuk bimo lukar adalah mata air suci bagi umat hindu kuno dieng yang terbuat dari batu purba di simbolkan dengan batu lingga "menyerupai testis alat kelamin pria" dan yoni berupa batu persegi empat yang di tengah-tengahnya terdapat lubang untuk menampung air dari pancuran lingga tersebut ."seperti alat kelamin perempuan" 
Menurut cerita di mana nama dari tuk bimo lukar di maksudkan sebagai tempat ketika sang bimoseno mensucikan diri (melukar) dan tuk bimo lukar juga sebagai mata air /hulu dari sungai serayu (the longerst river in central java)yang memiliki makna "siro ayu" kemudian juga di yakini bisa menjadikan awet muda apabila seseorang mencuci mukanya di tempat itu(begin from a local legend..........>your face will be forever young ,once washed at bimo lukar purification spring......do you believed??? .Berdasarkan cerita ketika pada zaman dahulu para peziarah harus melewati ondo budo (bangunan tangga berundak) di lanjutkan ke daerah watu kelir "batu layar" ...konon di tempat itulah para raja-raja mataram menikmati keindahaan dieng di atas batu layar ,kemudian para peziarah sebelum melakukan upacara terlebih dahulu mereka mensucikan diri /melukar agar dalam melaksanakan kegiatan /upacara terbebas dari hal-hal yang kotor .....itulah simbol dari keberadaan situs dari watu kelir!!!!!  





Sebenernya kalo ditempuh sepeda motor akan mempermudah gerak kita menyusuri lokasi wisata di Dieng, karena lokasi wisata di Dieng jarak satu dengan lainnya ga' berjauhan. Waktu yg direncanakan full satu hari, ternyata bisa dipersingkat, kelar jam 2 siang. Inilah tempat" wisata yg aku kunjungi selama di Dieng, sekalian pamer hasil bidikan mas Fauzi hasil pembelajaran cara menggunakan kamera dlm itungan menit saja. Matur nuwun mas,,, >>>> no.hp Mas Fauzi : 085329554401 (recommended)


Komplek Candi Arjuna








Arah ke Telaga Pengilom
Gardu Pandang Tieng (tuhh,, kota Wonosobo dibawahnya)

Telaga Warna







Telaga Warna


Kawah Sikidang

Candi Bima